Postingan

Cerita Ibu Muda

Semakin dewasa, semakin bertambah peran. Maka bertambah pula tanggungjawab.  Semenjak menjadi seorang ibu, saya merasa ada cukup banyak perubahan hidup yang lebih positif.  Saya menjadi semakin terpacu untuk menyegerakan pekerjaan dan cukup jarang menunda-nunda. Padahal saya dulu termasuk type orang yang suka sekali menunda-nunda pekerjaan. Waktu yang tak lagi sebebas dan seleluasa dulu membuat saya harus mampu membagi waktu untuk anak, pekerjaan rumah dan berbagai hal lainnya.  Selain itu saya jadi lebih rajin memasak. Ada beberapa pertimbangan, yang paling utama karena anak. Ada perasaan tanggungjawab yang begitu besar untuk bisa memenuhi kebutuhan makannya. Saya merasa senang dan tenang apabila anak lahap makan dengan menu masakan saya sendiri. Saya pun jadi semakin terampil. Memasak bukanlah bakat, melainkan keterampilan. Jadi semakin rajin dan terbiasa, maka akan terasa mudah dan ringan dalam melakukannya. Empat tahun menjalani peran sebagai orangtua, saya merasakan ...

Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga

Sebagai seorang perempuan yang telah bergelar ibu, kemungkinan terbesar kita pernah mengalami pembandingan. Baik oleh diri sendiri maupun orang-orang di sekitar. Ibu bekerja dianggap egois, mementingkan pekerjaan hingga anak kurang terurus. Ibu rumah tangga dianggap sebelah mata karena secara ekonomi hanya mengandalkan suami saja.  Sebenarnya mana yang lebih baik antar ibu bekerja atau ibu rumah tangga?  Sebelumnya mari kita samain persepsi terlebih dulu. Ibu bekerja adalah bermakna bekerja di tanah publik. Sedangkan ibu rumah tangga dibranah domestik. Keduanya sama-sama bekerja, namun berbeda ranahnya.  Setiap peran dalam kehidupan ini, memiliki klien utama yang musti di penuhi haknya oleh yang menjalani peran. Pemerintah klien utamanya rakyat, guru klien utamanya murid, dokter klien utamanya pasien. Dan ibu klien utamanya anak-anaknya.  Klien utama artinya adalah pihak yang paling berhak mendapatkan manfaat dari orang yang menjalani peran tersebut. Maka bagi seoran...

Sadar Bakat Hidup Bermanfaat

Bakat. Satu kata yang cukup menarik. Mendengar kata ini apa yang terfikirkan? Tentang potensi, keahlian, sesuatu yang sudah dari sananya kita dapatkan. Sesuatu yang ketika melakukan terasa asik dan menyenangkan. Sebagian orang bisa memahami secara langsung dan mudah apa yang menjadi bakatnya. Sebagian yang lain tidak. Ini lah yang dirasakan oleh saya juga teman-teman yang pada pertengahan tahun 2021 lalu mengikuti kelas Talents Optimization. Di kelas ini kita melalui beberapa tahapan. Ada tools yang dipergunakan. Melalui ini kami pun dibuat memahami betul tentang apa saja sifat bakat juga sisi kuat dan lemah yang ada dalam diri kami.  Pada saat berlangsungnya program. Ada satu penugasan yang mengharuskan saya untuk memutar ingatan ke belakang bagaimana di masa lalu.  Betapa saya merasakan adanya sifat bakat. Perfeksionis dalam hal hasil. Mengingat dulu saat mendapat tugas membuat laporan atau karya tulis pada saat di sekolah maupun kuliah say selalu memberi perhatian penuh pad...

Merawat Fitrah Keimanan

Setiap anak terlahir dengan membawa fitrahnya. Alah telah menitipkan potensi dasar berupa keistimewaan-keistimewaandalam diri setiap anak manusia sebagai bekalnya untuk mengarungi kehidupan dengan baik. Sesungguhnya, saat anak terlahir ia telah meyakini (mengimani) bahwa Allah adalah Rabb-Nya, ada dasar kemampuan menerima kebaikan atau pendidikan dan pengajaran, dorongan untuk mencari kebenaran, kekuatan-kekuatandan sifat-sifat yang dapat dikembang dan disempurnakan, serta dorongan biologis.  Setiap anak setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan. Keempat potensi itu diantaranya: fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, dan fitrah perkembangan. Melaui fitrah based education atau pendidikan berbasis fitrah potensi-potensi fitrah itu ditumbuhkan dan dirawat agar tidak menyimpang dari potensi dasarnya bahkan menguatkan potensi-potensi itu menjadi peran terbaik dan akhlak mulia. Demikian lah esensi pendidikan sejati, pendidikan berbasis fitrah. Dalam tulisan kali ini s...

Ibu Sentral Cinta Keluarga

Tidak lah berlebihan jika kita menyebut peran ibu sebagai satu peran mulia dan luar biasa di tengah keluarga. Di dalam keluarga tugas dan perannya boleh dibilang cukup kompleks. Ibu memiliki tanggungjawab mendidik anak, menjadi pelaksana harian pendidikan anak. Juga berkewajiban patuh dan taat pada suami. Melayani suami sepenuh hati. Jika pernah ada anggapan bahwa baik atau tidaknya suasana rumah bergantung bagaimana sang ibu. Suasana menjadi tidak begitu baik apabila ibu sedang tidak baik. Semua merasakan dampaknya. Maka benar lah jika ibu adalah jantung keluarga.  Dahulu saat saya masih bersekolah madrasah, ibu sempat sakit-sakitan. Ada beberapa penyakit yang bersarang di tubuh ibu. Sampai ibu harus di rawat di Rumah Sakit. Tidak hanya sekali, namun beberapa kali harus keluar masuk. Sampai pernah suatu malam di ruang rawat inap, kondisi ibu "kumat", ada ketakutan hebat menyergap dalam diri ini, seakan-akan malam itu juga ibu akan "pergi". Masa itu yang paling saya...

Generasi Jaman Sekarang

Jaman sekarang, di tengah kemajuan teknologi yang super cepat ini, masyarakat benar-benar mendapat banyak sekali kemudahan untuk mencapai suatu tujuan, juga melakukan beragam pekerjaan.  Apalagi di era revolusi Industri 4.0 atau era digital ini seolah dunia sudah ada dalam genggaman. Hanya dengan jari tangan kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan. Dengan gadget di genggaman kita bisa memperoleh informasi apapun, terhubung dengan banyak orang dimanapun berada, termasuk yang paling mengasyikkan adalah bisa menambah pundi-pundi uang. Dengan kemajuan jaman seperti saat ini, " Apa kabar dengan para generasi mudanya?" Kenyataan sekarang generasi muda benar-benar dimudahkan segala sesuatunya. Dari aspek intelektual kita akui memang banyak karya kreatif inovatif karya anak muda yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Di era digital ini banyak bermunculan jenis pekerjaan baru yang dapat juga dilakukan meski dari rumah.  Namun kenyataan dari aspek spiritual- emosional, anak muda se...

Perempuan Jaman Now

Kerapkali aku berpikiran jika perempuan jaman sekarang itu tidak sestrong perempuan jaman dulu. Bagaimana maksudnya? Dalam memandang rutinitas kerumahtanggaan seolah ibu ibu muda jaman sekarang memandang (agak) beban. Bahwa pekerjaan rumah itu melelahkan, membosankan. Tercermin dari maraknya konten media sosial saat ini. Apa iya sebab pendidikan perempuan jaman sekarang yang cenderung lebih tinggi dibanding banyak perempuan jaman dahulu? Sebab pendidikannya tinggi, waktu menempuhnya lebih panjang di bangku sekolah/ kuliah. Fokusnya lebih banyak ke sana ketimbang pekerjaan rumahan. Untuk makan atau cuci pakaian, tinggal beli atau laundry. Jadi ketika ternyata selesai dari itu kemudian harus banyak berjibaku dengan aktivitas pekerjaan rumahan rasanya jadi sangat melelahkan sekali. Berbeda dengan perempuan jaman dahulu yang pendidikannya tidak terlalu tinggi, dan kecenderungan lebih cepat menikah, berumahtangga dan memiliki anak, maka soal rutinitas kerumahtanggaan jadi lebih terlatih. Ap...