Perempuan Jaman Now

Kerapkali aku berpikiran jika perempuan jaman sekarang itu tidak sestrong perempuan jaman dulu. Bagaimana maksudnya? Dalam memandang rutinitas kerumahtanggaan seolah ibu ibu muda jaman sekarang memandang (agak) beban. Bahwa pekerjaan rumah itu melelahkan, membosankan. Tercermin dari maraknya konten media sosial saat ini.

Apa iya sebab pendidikan perempuan jaman sekarang yang cenderung lebih tinggi dibanding banyak perempuan jaman dahulu? Sebab pendidikannya tinggi, waktu menempuhnya lebih panjang di bangku sekolah/ kuliah. Fokusnya lebih banyak ke sana ketimbang pekerjaan rumahan. Untuk makan atau cuci pakaian, tinggal beli atau laundry. Jadi ketika ternyata selesai dari itu kemudian harus banyak berjibaku dengan aktivitas pekerjaan rumahan rasanya jadi sangat melelahkan sekali.
Berbeda dengan perempuan jaman dahulu yang pendidikannya tidak terlalu tinggi, dan kecenderungan lebih cepat menikah, berumahtangga dan memiliki anak, maka soal rutinitas kerumahtanggaan jadi lebih terlatih.

Apalagi di jaman sekarang banyak sekali literasi literasi yang seolah kontras dengan adat budaya masyarakat. Adalah tentang aktivitas pekerjaan rumah tangga merupakan kewajiban suami. Suami tidak hanya mencukupi nafkah lahuruah, namun juga batiniah. Tidak hanya memberi uang belanja, namun juga membersihkan pakaian, rumah, juga menyediakan makanan. Dan yang selama ini banyak dilakukan para istri merupakan upaya membantu suami. 

Saya pun terfikir, ketika suami dan istri itu memiliki level pendidikan yang sama, kecenderungan istri pun memiliki ego da idealisme yang juga ingin bisa bekerja seperti halnya suami. Bisa mengaktulalisasi diri. Namun realitasnya ada yang harus cukup emerima untuk menjadi ibu rumah tangga saja. 

Perempuan modern pun berpikiran untuk bisa saling bekerjasama dengan suami dalam urusan pekerjaan rumah. Agar terasa lebih ringan dan si perempuan juga mendapat kesempatan untuk bekerja--mengaktualisasi diri. Kemudian ini pun akan berdampak pada bagaimana si perempuan dalam mendidik anak lelakinya. 

Suatu ketika saya dalam sebuah unggahan di TimeLine sosial media saya, ada seorang ibu muda yang meminta kedua anak lelakinya mengupas bawang untuk bumbu memasak. Anak laki-laki nya dididik untuk juga bisa masak. 

Bagi saya pribadi, soal yang semacam itu saya tak perlu mengajarkan pada anak lelaki saya. Sebab seperti sudah menjadi sifat bawaan bahwa anak saya sangat suka dengan aktivitas perdapuran. Dia nampak senang membuat beberapa menu, seperti membuat agar-agar, mie instan, jus buah, bubur. Beberapa kali saat saya menggoreng ia pun memaksa untuk juga bisa terlibat. 

Orang-orang di sekitar sini memandang kesenangan anak lelaki saya dengan aktivitas sepet ini sebagai sesuatu yang agak aneh, "apa anak laki-laki kok masak." Ya benar saja sebab adat budaya masyarakat kita memandang perempuab lah yang berkewajiban menjalankan aktivitas perdapuran itu. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendidik Dengan Cinta

Generasi Jaman Sekarang