Generasi Jaman Sekarang
Jaman sekarang, di tengah kemajuan teknologi yang super cepat ini, masyarakat benar-benar mendapat banyak sekali kemudahan untuk mencapai suatu tujuan, juga melakukan beragam pekerjaan.
Apalagi di era revolusi Industri 4.0 atau era digital ini seolah dunia sudah ada dalam genggaman. Hanya dengan jari tangan kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan. Dengan gadget di genggaman kita bisa memperoleh informasi apapun, terhubung dengan banyak orang dimanapun berada, termasuk yang paling mengasyikkan adalah bisa menambah pundi-pundi uang.
Dengan kemajuan jaman seperti saat ini, " Apa kabar dengan para generasi mudanya?"
Kenyataan sekarang generasi muda benar-benar dimudahkan segala sesuatunya. Dari aspek intelektual kita akui memang banyak karya kreatif inovatif karya anak muda yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Di era digital ini banyak bermunculan jenis pekerjaan baru yang dapat juga dilakukan meski dari rumah.
Namun kenyataan dari aspek spiritual- emosional, anak muda sekarang terlalu terbuai dengan kemilau dunia saat ini. Anak muda hits lebih senang untuk bisa menikmati masa muda dengan "seru-seruan", misal saja: Jalan-jalan ke mall, nonton, karaoke, nongkrong dan sebagainya. Benar bukan? Dan untuk kegiatan berfaedah termasuk yang bersifat keagamaan mereka kurang begitu tertarik. Lihat saja hadirin dalam sebuah majelis kajian yang mayoritas adalah bapak/ ibu tua. Kalau pun ada anak muda jumlahnya sangat mudah dihitung dengan jari.
Lebih ekstrim lagi, potret generasi sekarang begitu memprihatinkan. Kita lihat berdasarkan hasil beberapa survey berikut ini:
Sebanyak 2.300.000 lebih pelajar dan mahasiswa di Indonesia pernah mengonsumsi narkotika. Uty setara dengan 3.2℅ populasi kelompok tersebut. Artinya dari 100 pelajar dan mahasiswa, ada 4 orang yang pernah mengonsumsi narkotika.
(survey BNN & LIPI, 2018)
Sebanyak 97℅ dari 1.600 anak kelas 3 SD sampai Kelas 6 SD di delapan provinsi di Indonesia telah terpapar pornografi.
(Survey KPPA, 2017)
Survey kepada pelajar SMP dan SMAdi 17 kota besar di Indonesia, hasilnya mengejutkan, sebanyak 97℅ pernah menonton film porno; sebanyak 93.7℅ mengaku pernah berviuman; sebanyak 63.7℅ pernah melakukan hubungan seks ora nikah; dan 21.2℅ pernah melakukan abirai illegal.
(Survey Komnas Perlindungan Anak, 2004)
Para psikolog yang diterjunkan untuk menganalisa kejiwaan setiap pelaku kriminalim belum pernah gagal nemeleroleh data bahwa lelaku merupakan orang yang tidak mendapatkan pola pengasuhan yang baik dari orangtuanya.
Maka dari itu sangat penting hal ini untuk menjadi perhatian kita berasama, apalagi para (calon) orangtua agar mampu mengambil sikap bijak untuk serius dalam pengasuhan. Dsaat ini adanya gempuran gadget luar biasa juga jaman yang semakin tak karuan adanya.
Tahun 2030 Indonesia kaan menafalami puncak demografi, di tahun tersebut usia produktif(15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (Anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan orangtua berusia 65 tahun ke atas). Rasionya 100/ 44.Artinya jumlah penduduk di usia produktif 2x lipat lebih banyak dari penduduk usia tidak produktif.
Jika saat ini menjadi orangtua baru di sekitaran tahun 2015, kelak anak-anak kita menjadi pemuda bersama-sama dengan mayoritas pemuda lainnya di negeri ini di tahun 2030 tadi.
Dan apabila anak-anak sekarang ini kita biarkan begitu saja, tidak ada keseriusan dalam pengasuhan. Hingga mereka terjerumus pada hal di luar batas seperti yang terurai dalam beberapa survey di atas, jangan-jangan bonus demografi yang akan kita dapat di 2030 mendatang, melainkan petaka demografi.
Komentar
Posting Komentar