Merawat Fitrah Keimanan

Setiap anak terlahir dengan membawa fitrahnya. Alah telah menitipkan potensi dasar berupa keistimewaan-keistimewaandalam diri setiap anak manusia sebagai bekalnya untuk mengarungi kehidupan dengan baik. Sesungguhnya, saat anak terlahir ia telah meyakini (mengimani) bahwa Allah adalah Rabb-Nya, ada dasar kemampuan menerima kebaikan atau pendidikan dan pengajaran, dorongan untuk mencari kebenaran, kekuatan-kekuatandan sifat-sifat yang dapat dikembang dan disempurnakan, serta dorongan biologis. 

Setiap anak setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan. Keempat potensi itu diantaranya: fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, dan fitrah perkembangan. Melaui fitrah based education atau pendidikan berbasis fitrah potensi-potensi fitrah itu ditumbuhkan dan dirawat agar tidak menyimpang dari potensi dasarnya bahkan menguatkan potensi-potensi itu menjadi peran terbaik dan akhlak mulia. Demikian lah esensi pendidikan sejati, pendidikan berbasis fitrah.

Dalam tulisan kali ini saya akan fokus pada fitrah keimanan. Saya ingin sedikit berbagi pengalaman merawat potensi fitrah keimanan. 

Proses menumbuhkan dan merawat fitrah keimanan ini berlangsung saat anak berusia 0-6tahun. Sebab keimanan adalah dasar, maka sudah semestinya menjadi perhatian di masa awal. Ibarat sebuah pohon yang kokoh, pasti akarnya pun kuat. Demikian pula dengan seorang anak, ia akan menjadi kuat dan tangguh apabila keimanannya terawat dan terjaga di masa awal kehidupannya. 

Lalu bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan dan merawat fitrah ini? 

Diantaranya adalah dengan memberikan imaji positif. Ini dapat dilakukan melalui penyampaian kisah. Kisah ini bukan sembarang kisah, sebab ada kisah legenda yang sudah begitu dikenal di masyarakat secara turun temurun, namun sebenarnya menyimpan pesan yang kurang baik. Sebagai muslim, sudah selayaknya kisah nabi dan rasul, dan orang-orang terdahulu lah yang menjadi bahan untuk disampaikan kepada anak-anak kita. 

Selain kisah, yaitu dengan dialog keimanan. Ini dapat dilakukan kapan saja, dimana saja. Suatu misal saat sedang dalam perjalanan. Ini yang biasa kami lakukan. Di saat kami menyusuru jalanan raya sedang kanan kiri hutan dengan pohon pohon besar tinggi menjulang, kami sampaikan kepada si kecil, "Nak lihat lah pohon-pohon itu, banyak sekali ya? Lebat ya? Siapa yang menumbuhkan? Allah. Allah keren dan hebat banget ya?

Dalam pendidikan berbasis fitrah ini, kaitannya dengan fitrah keimanan ini yang sangat menjadi catatan adalah jangan dulu berbicara dosa atau neraka. Berbicaralah kita tentang hebat dan luar biasanya Allah, Rasul, dan Islam itu. Supaya anak terkesima, takjub dan jatuh cinta pada kebenaran. Fitrah keimanannya bisa tumbuh paripurna. 

Hal ini berkaitan dengan fiqih dakwah, "Sampaikan lah terlebih dulu berita gembira, baru setelah itu perintah."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendidik Dengan Cinta

Generasi Jaman Sekarang

Perempuan Jaman Now