Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga
Sebagai seorang perempuan yang telah bergelar ibu, kemungkinan terbesar kita pernah mengalami pembandingan. Baik oleh diri sendiri maupun orang-orang di sekitar. Ibu bekerja dianggap egois, mementingkan pekerjaan hingga anak kurang terurus. Ibu rumah tangga dianggap sebelah mata karena secara ekonomi hanya mengandalkan suami saja.
Sebenarnya mana yang lebih baik antar ibu bekerja atau ibu rumah tangga?
Sebelumnya mari kita samain persepsi terlebih dulu. Ibu bekerja adalah bermakna bekerja di tanah publik. Sedangkan ibu rumah tangga dibranah domestik. Keduanya sama-sama bekerja, namun berbeda ranahnya.
Setiap peran dalam kehidupan ini, memiliki klien utama yang musti di penuhi haknya oleh yang menjalani peran. Pemerintah klien utamanya rakyat, guru klien utamanya murid, dokter klien utamanya pasien. Dan ibu klien utamanya anak-anaknya.
Klien utama artinya adalah pihak yang paling berhak mendapatkan manfaat dari orang yang menjalani peran tersebut. Maka bagi seorang ibu, anak-anak adalah pihak yang paling berhak untuk mendapatkan manfaat dari ibunya. Tidak ada klien yang lebih berhak mendapatkan manfaat dari seorang ibu selain anak-anaknya.
Kembali ke pertanyaan awal tadi,
lebih baik antar ibu bekerja atau ibu rumah tangga? Jawabanya bergantung pada tunai atau tidaknya ia dalam menjalani peran sebagai ibu. Jika seorang ibu adalah ibu rumah tangga yang bekerja di ranah domestik, kemudian ia tunai tugas mendidik anak, maka keputusan menjadi ibu rumah tangga itu baik dan benar. Demikian pula berlaku bagi ibu bekerja. Jika seorang ibu bekerja tunai tugas mendidik anak, maka keputusannya untuk bekerja baik dan benar.
Tanggungjawab orangtua termasuk ibu dalam mendidik anak yang paling krusial ada di tentang usia 0-6 tahun. Saat itu anak masih butuh banyak pendampingan dan pengawasan. Anak butuh mendapat perawatan potensi fitrah keimanannya.
Namun kenyataannya dapat kita lihat di masyarakat, banyak ibu dengan anak di tentang usia itu yang juga bekerja di tanah publik. Baik karena kebutuhan maupun aktualisasi diri. Sehingga pengasuhan anak sebagian waktunya didelegasikan kepada yang lain. Kita tidak dapat menilai ibu bekerja kurang baik, karena kurang mengasuh anak. Penilaian semacam itu terlalu permukaan saja. Kita tidak 24 jam selalu mengetahui kehidupan mereka. Kita tidak tahu dengan sebenarnya apa saja yang telah diupayakan ibu untuk anaknya.
Realitanya kita juga masih membutuhkan manfaat dari ibu yang berkiorah di tanah publik. Diantaranya sebagai guru sekolah anak kita, sebagai dokter/ bidan yang dengan ia lah kita (perempuan) merasa lebih nyaman untuk periksakan kesehatan.
Bagi ibu bekerja, tentu harus memiliki manajemen waktu, emosi dan prioritas yang sangat baik. Sehingga pengasuhan dan pendidikan anak tunai paripurna.
Sebaiknya menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga? Kembali pada masing-masing, bagaimana jawaban sejujurnya dari hati kecil ibu.
Komentar
Posting Komentar