Sadar Bakat Hidup Bermanfaat
Bakat. Satu kata yang cukup menarik. Mendengar kata ini apa yang terfikirkan? Tentang potensi, keahlian, sesuatu yang sudah dari sananya kita dapatkan. Sesuatu yang ketika melakukan terasa asik dan menyenangkan.
Sebagian orang bisa memahami secara langsung dan mudah apa yang menjadi bakatnya. Sebagian yang lain tidak. Ini lah yang dirasakan oleh saya juga teman-teman yang pada pertengahan tahun 2021 lalu mengikuti kelas Talents Optimization.
Di kelas ini kita melalui beberapa tahapan. Ada tools yang dipergunakan. Melalui ini kami pun dibuat memahami betul tentang apa saja sifat bakat juga sisi kuat dan lemah yang ada dalam diri kami.
Pada saat berlangsungnya program. Ada satu penugasan yang mengharuskan saya untuk memutar ingatan ke belakang bagaimana di masa lalu.
Betapa saya merasakan adanya sifat bakat. Perfeksionis dalam hal hasil. Mengingat dulu saat mendapat tugas membuat laporan atau karya tulis pada saat di sekolah maupun kuliah say selalu memberi perhatian penuh pada tata letak dan kerapihan tulisan. Marginnya harus rata, jarak spasinya harus dijaga, pokoknya tidak boleh hanya asal jadi saja.Karena bidang kuliah saya jahit, saya lun terbiasa dengan aktivitas jahit. Saat mendapat tugas jahit di perkuliahan dulu saya sangat sering mendedel ketika hasil jahitan saya kurang rapi.
Lalu ada sifat bakat discipline. Artinya suka dengan sesuatu yang sistematis, teratur, terorganisir. Dan ini benar saja. Dari kecil saya sangat suka menata rumah, merapikan tempat tidur. Pokoknya ingin membuat rumput terlihat bersih, rapi dan tertata. Saat jadi anak rabtau, tinggal di rumah indekost, saya pun kerap mengingatkan teman-teman yang lain untuk juga terlibat dalam piket kost. Sampai-sampai ada yang menjuluki saya sebagai ibu kost saking nampak cerewenya saya. Ahaha.
Sementara dari dua ini saja saya memandang diri saya pas ketika saat ini saya terjun di dunia praktisi bank sampah. Saya bersama ibu-ibu menyosialisasikan tentang kepedulian terhadap lingkungan, salah satunya untuk saat ini adalah dengan mengumpulkan sampah anorganik. Disaat sampah warga (nasabah)di masing-masing rumahtangga itu sudah terkumpul, kami akan mengambil dan memilahnya. Tentu karena ini bank, sampah yang disetorkan oleh nasabah ini akan dikonversi menjadi rupiah sesuai jenis dan berat sampahnya. Dari rupiah itu nasabah bisa memiliki tabungan berupa uang.
Sejauh ini kami selain bergerak di pemilahan kami juga sudah mencoba membuat produk keterampilan dari sampah plastik, diantaranya:domoet, tas, tempat pensil dan frame foto. Berharap ke ddepan bisa pula bergerk di pengomposan. Saat ini menjadi PR kami.
Komentar
Posting Komentar