Tangguh Menghebatkan
Perempuan adalah makhluk Allah yang begitu istimewa. Keistimewaan itu menjadi lebih bertambah lagi tatkala dirinya telah menyandang status dan peran sebagai istri juga ibu. Kesehariannya yang biasa bergelut dengan rutinitas praktis kerumahtanggaan, yang juga harus mampu membagi waktu untuk merawat, mengasuh, mendidik anak. Juga mengabdi dan melayani suami.
Terkait rutinitas kerumah tangga saja, maka kita akan teringat tentang setumpuk pekerjaan rumah, mulai membereskan, mengepel menyapu rumah. Urusan dapur: memasak, menara rak, mencuci piring. Urusan sumur: mengosek kamar mandi, mencuci baju. Dan itu terus berulang setiap harinya. Bekerja monotob menghadapi sesuatu hal yang kotor. Betapa hal itu pun juga terasa melelahkan.
Lalu Terkait tugasnya untuk merawat, mengasuh anak. Bisa dibilang puncak kompleksitas peran ibu ada pada saat anak-anak masih balita ini. Bagaimana tidak? Anak-abak yang masih balita, masih membutuhkan pengawasan dan pendampingan bukan? Sehingga untuk menjalankan pekerjaan kerumahtanggaan ibu perlu menunggu saat anak tidur, atau mau ditinggal, atau juga ada yang menemani.
Betapa hebatnya lagi peran seorang ibu yang mendapat amanah istimewa dari Allah. Bukan istimewa karena kecantikan atau ketampanan, melainkan kekurangan.
Semua orangtua menghendaki anaknya lahir sehat, normal dan sempurna. Namun pada kenyataannya ada ibu yang tidak mendapatkan itu. Salah satunya pada ibu Heny Sulistiyowati.
Ia menyadari adanya kekurangan pada anaknya saat anak berusia 3 bulan. Fajar Abdurrokhim namanya. Sang anak lahir dengan BB 1.6Kg. Setelah melalui serangkaian cek medis diketahui Fajar mengidap cerebral palsy spastik. Saat di RS Heny meminta izin kepada dokter dan perawat untuk memperdengarkan murottal al-Quran di telinganya buah harinya.
Ini berkelanjutan saat anak sudah di rumah. Usia Fajar 3 tahun, Heny membelikan Compact Disc interaktif al-Quran yang bisa sistem di laptop. Suatu ketika Heny terkesima saat Fajar bisa menirukan akhir ayat dari al-Quran. Usia 5 tahun Heny memanggil guru tahfidz. Setelah 6 bulan dibimbing, guru tahfidznya pun menyampaikan Fajar hafal 80-90% ayat al-Quran. Setelah berganti beberapa guru, Desember 2012 di usianya ke 9 tahun Fajar benar-benar hafal al-Quran. Subhanallah. Ternyata anak yang mengalami keterbatasan karena cerebral palsy spastik mampu menghafal seluruh al-Quran.
Sungguh luar biasa perjuangan Heny, ibunda Fajar. Ia menerima sepenuh harus kekurangan yang ada pada buah hatinya, gigih berjuang mendampinginya hingga anugerah luar biasa pun ia peroleh.
Teruntuk seluruh ibu dimanapun berada, kalian semua hebat dengan perjuangan dan pengorbanan sesuai kapasitas masing-masing.
Komentar
Posting Komentar