Sebuah Pelajaran dari Nikmatnya Keluhan


Januari 2020 menjadi awal keluhan itu saya rasakan. Ada ketidaknyamanan pada bagian perut bawah. Dorongan untuk buang air kecil jadi lebih sering. Jeda waktu kuranglebih satu jam. Pernah juga dalam satu jam tiga kali, bahkan lebih. Dan ini berlangsung hingga berbulan bulan lamanya. Adakalanya  membaik dalam beberapa pekan, namun setelah itu terasa lagi.

Tetap menjalankan aktivitas seperti biasa meski sebenarnya ada sesuatu yang tidak biasa. Bagi orang lain saya nampak sehat dan baik-baik saja. Namun  sebenarnya ada stress dan kebingungan yang besar saya rasakan. Beberapakali merasa was was saat keluar rumah. Pernah ada tugas atau agenda tertentu yang terpaksa saya urungkan karena kacaunya kondisi keluhan itu. Dalam jeda waktu yang tidak lama, saya harus bolak balik  keluar masuk kamar mandi. Saya merasa sangat terganggu. Keluhan ini pernah membuat saya beberapakali sampai menangis, termasuk saat curhat sama suami. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Menghadapi keluhan ini, saya terdorong untuk mencari informasi. Saya search artikel  artikel terkait di internet. Saya konsultasi dengan pihak yang saya anggap mampu. Banyak ikhtiar yang saya lakukan, mulai dari alternatif pijat, terapi minum air alkali, periksa ke faskes 1. Termasuk melalui tahapan tes urine, gula darah, dan lainnya. Namun semuanya belum memberi hasil sesuai harapan.
Langkah kaki ini terus tergerak untuk mencari jalan kesembuhan. Ada di satu waktu saya meminta suami untuk saya bisa periksa langsung ke dokter spesialis. Ada beberapakali kunjungan yang saya lakukan. Pada kunjungan pertama, seperti pemeriksaan biasanya, usai menyampaikan keluhan dokter memberi resep lalu pulang. Beberapa pekan terlewati konsumsi obat habis, namun belum ada perubahan. 
Saya pun melakukan kunjungan kembali.  Ada sesuatu yang berkesan saat itu. 
Dokter mengatakan, “Udah tidak perlu khawatir. Tenang saja. Tidak usah mikir satu obat yang paten untuk menyembuhkan itu. Tinggal  minum aja yang banyak. Dan minum resep obat ini untuk mempercepat meluruhnya bakteri.”
“Lha kalau buang air kecilnya jadi semakin sering bagaimana dok?” timpalku
“Kamu mau pilih mana, minum banyak sering buang air kecil atau minum banyak tapi malah tidak buang air kecil samasekali.?” Jawabnya sontak membuat kami tertawa.
“Terus yang terpenting juga banyakin doa ya, apalagi ini bulan Ramadhan.” Imbuhnya. Masya Allah sebuah ungkapan sederhana yang terasa istimewa bagi saya. Ada ketenangan batin yang dalam. 
Hari terus berganti. Keadaan masih tetap belum ada perubahan. Saya pun melakukan kunjungan ulang. Hingga kemudian saya diminta melakukan tindakan medis lanjutan, yaitu USG.  Setelah hasil USG  keluar, saya diminta untuk datang ke spesialis kandungan. Saya melakukan kunjungan ke satu dokter. Karena nggak puas dengan pemeriksaanya saya memutuskan untuk datang ke dokter yang lain. Dari sana tidak didapatkan sesuatu hal yang aneh. Semua baik baik saja. 
Dalam perjalanan berangkat atau pulang saya berdoa memohon sama Allah, “Yaa Allah mohon berikan jalan kesembuhan. Jadikan kondisi saya bisa normal dan baik adanya” sambil memperbanyak istighfar dan berdzikir kepada-Nya. Saya selalu brupaya menata hati bahwa dokter dan obat adalah wasilah. Bukan penentu kesembuhan. Kesembuhan datang hanya dari Allah.
**
Betapa semua itu memberi hikmah dan pelajaran yang luar biasa pada saya. Ada pembelajaran yang begitu mendalam tentang sebuah “nikmat sehat”. Sebuah nikmat yang selama ini sering terlupa. Selain itu saya jadi lebih banyak minum air putih. Dalam sehari minimal 2 liter harus masuk ke tubuh saya. Bukankah itu juga sangat baik untuk tubuh?
Dalam keadaan yang tidak diharapkan, coba sama-sama kita berpikir, “ Bagaimana jadinya jika nikmat sehat itu Allah cabut, semua yang kita hadapi akan jadi lebih rumit pasti. Kita tidak bisa melakukan pekerjaan dengan sebagaimana mestinya.” Maka menyadari nikmat sehat  akan lebih menjaga diri kita dari bentuk sikap yang tidak semestinya.
Pernah suatu ketika ada kelelahan yang begitu terasa. Ada kejenuhan yang menyapa. Kemudian saya berfikir, “ Yaa Allah .. tak apa. Saya ikhlas, yang terpenting saya sehat.” Saya pun merasa tenang dan  hati lebih lapang. Saya jadi lebih mudah menerima keadaan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendidik Dengan Cinta

Generasi Jaman Sekarang

Perempuan Jaman Now