Perempuan Kekinian (2)
Barangkali benar, tingginya tingkat pendidikan mempengaruhi tingkat ego dan idealisme seseorang. Dalam hal ini kaitannya dengan perempuan. Perempuan berpendidikan sebagian besarnya pasti ingin bisa berkarier, bekerja mengaktualisasi dirinya. Hanya sedikit saja yang ingin hanya menjadi ibu rumah tangga. Ini wajar saja sebab dalam pelaksanaan menempuh pendidikan ada banyak yang dikorbankan, waktu pikiran dan tenaga. Seperti dianggap sayang jika hanya dirumah menjadi ibu rumah tangga.
Bagi perempuan berpendidikan yang telah dengan sukarela atau sedikit terpaksa menjadi ibu rumah tangga memiliki memiliki nilai bahwa ada sesuatu yang musti dilakukan, selain dari rutinitas kerumah tanggaan. Pandangan subjektif saya ini sangat positif. Ibu rumah tangga(perempuan) jaman sekarang , dapat dengan mudah memanfaatkan era digital yang serba memudahkan ini, selain untuk bekerja menambah pundi-pundi. Diantaranya dengan berbisnis online, menjadi konten creator, atau apapun yang dapat dilakukan dari rumah. Di era ini juga sangat bisa dengn mudah belajar mengupgrade ilmu, termasuk kaitannya dengan perempuan adalah tentang pengasuhan anak.
Dalam pelaksanaan kehidupan berumahtangga, perempuan seperti telah menjadi kunci keberlangsungan aktivitas kerumah tanggaan. Bagaimana tidak? Segala aktivitas kerumah tanggaan, seperti meyapu, mencuci, juga mengurus anak seperti telah menjadi kewajiban perempuan. Bagi sebagian perempuan jaman sekarang ini nampak menjadi beban. Lihat saja konten yang berseliweran di media sosial. Betapa kita dapat sudut pandang yang meyakinkan sekali bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tidak gampang. Ketika selesai di satu hari, maka akan berulang dihari lagi. Monoton dan membosankan. Dilakukan di jalan yang sepi dan minim apresiasi. Dan (mohon maaf) pekerjaan semacam ini dapat pula dilakukan oleh mereka yang tidak berpendidikan sekalipun.
Bagi kalangan atas, jelas hal pekerjaan kerumah tanggaan seperti ini akan di delegasi kan kepada orang lain. Sedang sangat perempuan dapat memiliki waktu yang lebih banyak untuk fokus bekerja, berkarier dan mengaktualisasikan diri. Namun bagi kalangan menengah ke bawah, hal ini kecenderungamnya akan dikerjakan sendiri. Bagi perempuan berpendidikan dengan mimpi, ambisi, dan keinginan tertentu hal ini tentu tidak cukup mudah. Beruntungnya mereka yng memiliki nilai keagamaan yang kuat. Mereka yakin bahwa semua itu harusnya dilakukan dengan keikhlasan. Sebab dengan itu akan memberikan balasan besar berupa pahala kebaikan dari sisi-Nya, yang kelak menjadi bekal di kehidupan akhir.
Komentar
Posting Komentar