Menjadi Ibu Visioner

Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, maka baik pula negaranya. Demikian ungkapan  yang sudah sangat familiar kita dengar selama ini. Perempuan memang luar biasa istimewa, hingga pengaruhnya sampai pada level sebuah negara. Perempuan adalah makhluk luar biasa yang pada dirinya Allah sematkan kodrat mengandung, melahirkan dan menyusui. Dari rahimnya akan terlahir generasi penerus masa depan. Besarnya cinta dan tangan dinginnya lah yang akan membentuk bagaimana kualitas generasi di masa depan.

Perempuan ketika telah menikah, berumahtangga, dan memiliki anak, peran dan tugasnya menjadi cukup kompleks. Selain harus taat, hormat dan melayani suami, juga berjibaku dengan urusan domestik. Yang paling penting dan utama adalah pelaksana pendidikan dan pengasuhan anak. Sebagai ibu muda yang memilih menjadi ibu penuh waktu, terkadang saya pun merasa lelah. Harapan besar saya begitu menghujam agar kelak di masa depan saya termasuk orangtua yang berhasil dalam mendidik. Biar saja lelah terasa untuk masa sekarang, yang terpenting (semoga) bangga dan bahagia yang akan saya petik di masa yang akan datang. 

Pilihan saya untuk lebih banyak waktu membersamai anak di rumah sebab saya mengganggap diri ini kurang dapat maksimal mendidik jika harus bekerja luar rumah. Saya butuh waktu lebih banyak dan leluasa dalam mendidik, mengingat adanya sebuah impian dan harapan mulia tentang akan menjadi seperti apa anak saya kelak. 

Sudah selayaknya sebagai orangtua, terlebih ibu untuk mau belajar tentang parenting atau pengasuhan. Saya pun demikian. Saat ini ada banyak program dan acara dengan topik ini. Kita pun harusnya antusias bersemangat mengikuti. Perubahan zaman begitu cepat, kita pun harus turut bergerak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Agar mampu menyesuaikanserta menyikapi perubahan zaman dengan lebih bijaksana. 

Setiap anak terlahir unik dengannawa potensi masing-masing. Sehingga tidak elok rasanya jika kita membandingkan anak satu dan lainnya. Tak dipungkiri hal itu sempat menghampiri saya. Sebagai ibu muda dengan seorang anak yang masih berusia dini, ada rasa  rendah diri disaat ia tidak bisa dalam satu hal, sementara banyak anak lain yang sudah bisa. Sempat ada sedikit rasa panik dan gugup, "Ayo lah Adzin.. Ini tu cuma gini aja." Astaghfirullahaladzim. Cukup lah hal itu menjadi sekelumit pengalaman saja. 

Dalam sebuah kelas parenting online, pernah saya dapatkan sebuah pernyataan bijak dari bunda pengisi materi pada saat itu, bahwa seharusnya kita sebagai orangtua memiliki rancangan pengajaran untuk anak kita. Ada targetan anak harus sudah bisa apa di usia sekian dan seterusnya. Agar kita tidak terintimidasi pada pencapaian anak orang lain yang lebih cepat dari anak kita. 

Saya dan suami terkait pengasuhan kami memiliki perencanaan (in sya Allah) paling tidak di umur 15 tahun anak kami sudah paham tentnag bakat dn potensinya. Di usia tersebut ia sudah memulai langkah tentang bidang apa yang akan ditekuni untuk kemudian bisa memberi manfaat bagi lebih banyak orang. Di usia 10 tahun selambat-lambatnya sholat lima waktunya sudah tertib. Di usia 6-7 tahun selambat-lambatnya sudah bisa membaca, tulis, dan hitung. Dan yang paling terdekat adalah dia bisa mandiri untuk bersekolah dan mengaji. Tak perlu lagi saya menunggu dan menemani. Bismillah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Ibu Bahagia

Bersama Lebih Bermakna

Generasi Jaman Sekarang