Menulis Bukan Karena Mood
Lima tahun sudah sejak saya memulai bergiat dengan kepenulisan. Masih sangat lekat sekali saat itu melaluu program 30 hari tantangan menulis atau 30 Days Writing Challenge atau disingkat 30 DWC lah saya mulai benar-benar mencoba mengasah skill kepenulisan saya. Saat itu program berjalan untuk yang ketiga kalinya pada Desember 2016.
Lolos tantangan 30 hari jilid 3, saya pun antusias dan bersemangat bergabung di jilid 4 pada Februari 2017. Begitu terasa semangat saya yang kian menyala-nyala. Semangat untuk bisa menuangkan ide dan gagasan lewat tulisan, semangat berbagi, dan memberi manfaat dan kebaikan bagi yang lainnya (in sya Allah). Saya pun terhitung cukup sering memberi umpan balik tulisan fighters lainnya dikala sesi feedback. Ketika ada kesempatan memberi materi kepenulisan atau yang disebut KOUF pun saya pun juga ikut serta.
Seringkali secara alami bermunculan ide dan gagasan di kepala saya. Dan sangat ingin saya rangkai dalam kata-kata. Saya pun kerap membagikannya di akun sosial media. Banyak ataupun sedikit yang merespon tak apa. Yang terpenting bagi saya, ada perasaan lega setelahnya. Tidak ada kata untuk tidak mood jika respon terhadap tulisan atau konten yang saya buat hanya sedikit. Big no for moody.
Beberapa kali saya pun ikut di beberapa kelas menulis di sebuah komunitas yang lumayan hits. Mengikuti materi dan tantangannya setiap pekan. Pun projek penulisan buku antologi bersama rekan pembelajar lain hingga penjualannya. Alhamdulillah saya pun selalu dapat menjual buku-buku antologi saya itu meski dengan jumlah yang tidak banyak.
Mei 2021 agaknya akan menjadi satu waktu yang tak akan pernah terlupa sepanjang kehidupan saya, sebab saat itu lah karya pertama berupa buku solo sederhana berhasil saya terbitkan. Ada rasa haru, lega, bahagia. Akhirnya projek menulis yang sebenarnya sudah saya mulai Desember 201, dan sempat terhenti itu benar-benar dapat terselesaikan. Saya memberi judul buku itu "Perjalanan Bermakna". Secara singkat buku ini berkisah tentang pengalaman hidup saya sedari kecil dari dewasa kini yang begitu memberi makna dalam kehidupan saya, sesuai dengan judulnya.
Saya berharap untuk terus bisa konsisten menulis. Saya pun cukup aktif membagikan ide gagasan dan pemikiran saya di media sosial, terlebih instagram. Saat ini saya lebih cenderung banyak membuat konten kutipan. Selama ini saya coba upayakan untuk saya bisa membuat konten minimal dua kali dalam sepekan. Saya berupaya komitmen, sebab saya ingin konsisten. Bukan moody yang artinya hanya menulis (membuat konten) sekedar mengikuti mood saja.
Komentar
Posting Komentar