Kehilangan, antara ketakutan dan kenyataan
Semasa kecil dulu saya kerap dirundung perasaan takut kehilangan. Takut kehilangan orang terkasih dan teristimewa dalam kehidupan saya. Orang yang telah banyak berjasa melahirkan dan membesarkan saya, siapa lagi kalau bukan bapak dan ibu. Ini terjadi lantaran saya yang teramat mengasihi dan mencintai mereka, dan masih sangat bergantung banyak terhadap mereka.
Bertahun-tahun yang lalu, saya dan keluarga pernah berada di masa sulit tatkala ibu mendapat ujian sakit. Ada beberapa penyakit yang bersarang di tubuh ibu. Banyak ikhtiar yang coba dilakukan. Mulai rawat jalan, rawat inap di rumah sakit hingga pengobatan alternatif. Beberapa kali ibu sempat berada pada kondisi yang sangat lemah tidak berdaya. Disaat seperti itu selalu ada perasaan takut kehilangan yang begitu menyergap. Tiada hal yang mampu saya perbuat, selain hanya berdoa memohon kepada-Nya untuk kesembuhan ibu.
Bapak sebagai tulang punggung, betapa teramat besar kerja kerasnya. Bekerja pagi hingga malam untuk menjalankan tanggungjawabnya memberi nafkah kepada kami sekeluarga. Apalagi kami termasuk keluarga besar dengan lima orang anak dan kesemuanya bersekolah. Disaat saya membutuhkan buku-buku sekolah, bapak selalu sigap dan antusias untuk mengupayakan barangkali saking bergantungnya saya dengan bapak lah yang juga membuat saya merasa takut kehilangannya. Perasaan takut kehilangan itu begitu mempengaruhi hati dan pikiran saya hingga tak terasa masuk ke alam mimpi.
Hingga pada 2012 silam, disaat saya berusia 21 tahun dan sudah akan beranjak menjadi dewasa saya benar-benar kehilangan sosok istimewa yang telah melahirkan saya, ibu. Di suatu siang yang saya dan keluarga tak pernah menyangka duka itu akan menyelimuti kami. Sebab saat pagi ibu masih sehat dan baik-baik saja. Bahkan saya dan mbak sempat ngobrol dan bercanda ringan dengan ibu. Juga memasakkan sayur untuk kami sekeluarga.
Saya pun mencoba berpikir positif bahwa saat itu yang terbaik bagi ibu. Dan saya pun termasuk beruntung sudah mendapat cukup banyak memori indah kebersamaan berasama ibu. Saat kami bersemangat berangkat menghadiri majelis ilmu, sholat berjamaah, maupun sekedar mengantarkan ibu berbelanja dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan.
Komentar
Posting Komentar