Adaptasi Keluarga Baru
Saat ini terhitung sudah empat tahun lebih saya bertempat tinggal di rumah ini. Tinggal satu atap dengan mertua tidak lah selalu mudah. Adakalanya muncul perasaan kurang nyaman. Ketidakcocokan pun ada, terlebih saat dulu di masa awal saya berada disini. Saya sempat kaget dengan sesuatu yang dianggap biasa disini padahal di keluarga dulu tidak pernah ada. Namun setelah itu saya mencoba memaklumi saja sebab beda keluarga, beda pula budaya dan kebiasaan.
Selama bertempat tinggal disini saya berupaya untuk bisa proaktif dengan berbagai pekerjaan rumah, seperti diantaranya: beberes dan menyapu rumah, mencuci piring, mencusi baju, mengosek kamar mandi dan sebagainya. Saya tidak mungkin egois hanya memikirkan diri sendiri. Saya memegang prinsip "bahwa keberadaan saya disini harus lah memberi manfaat." Bergiat nya saya dalam urusan pekerjaan rumah bukan karena saya sungkan. Bukan. Karena saya ingin mengikuti kata hati. Apalagi memang saya juga sudah terbiasa dengan aktivitas kerumahtanggan sedari saya kecil.
Ibu mertua sendiri memiliki kesibukan usaha kue. Ibu biasa menerima pesanan kue untuk beragam acara, seperti lamaran, pernikahan, rapat, ulangtahun, tasyakuran dan sebagainya. Dalam pengerjaannya ibu biasa dibantu oleh kerabat kami. Untuk berbelanja bahan dan keperluan biasa ibu sendiri. Pelanggannya juga sudah cukup banyak. Bukan hanya di wilayah desa kami saja, melainkan juga dari luar desa.
Dengan adanya kesibukan di rumah seperti demikian saya pun terkadang sedikit banyak ikut juga terlibat di dalamnya. Dalam teknis pembuatan saya tidak bisa, sehingga biasa yang saya lakukan adalah dengan membantu pengemasan.
Memang sempat saya berfikir kondisi saya seperti pada saat ini cukup kompleks. Saya memiliki peran tidak hanya sebagai istri dan ibu, melainkan juga anak mantu. Saya tidak boleh egois hanya berfikir tentang tugas dan peran saya sebagai istri dan ibu. Memang sudah seharuanya saya pun ikut membantu apa yang menjadi kesulitan dan kesibukan mertua. Pernah dulu di masa awal rasanya lebih mendahulukan untuk "membantu" padahal urusan rumahtangga, semisal: mencuci baju itu pun belum terjamah. Semakin kesini saya pun mencoba untuk semakin bijak, namun tetap tidak egois. Berupaya melakukan sesuatu sesuai prioritas. Itu saja.
Komentar
Posting Komentar