Perempuan Kekinian (1)
Terlahir menjadi perempuan jaman sekarang itu anugerah. Perempuan jaman sekarang sudah mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki kaitannya dengan pendidikan dan pekerjaan. Perempun bisa bersekolah sampai level tertinggi. Sama seperti halnya laki-laki. Maka kiprah perempuan jaman sekarang pun luar biasa. Kiprahnya di tanah publik pun sudah tidak diragukan lagi. Kesempatan diperolehnya sama. Perempuan bisa menjadi dokter, dosen, Profesor, kepala daerah, menteri bahkan presiden.
Disaat perempuan bersekolah sebagian besarnya akan memiliki mimpi dan cita-cita menjadi profesional dan berkarier. Seperti harus ada keterkaitan dan hubungan yang pas dari keduanya. Begitu pula dulu pernah hinggap di pikiran saya. Berkarier dan bekerja seperti menjadi goal setelah pendidikan itu selesai.
Namun jalan kehidupan tidak lah selalu bisa berjalan seperti yang diinginkan. Manusia merancang dengan cita, sedang Allah merancang dengan cinta-Nya. Karena alasan satu dan yang lainnya, perempuan dengan terpaksa atau sukarela memilih untuk tinggal di rumah. Yang kerapkali menjadi pertimbangan karena tidak wajib bagi perempuan bekerja. Sebab mencari nafkah sudah menjadi kewajiban suami.
Lalu muncul pandangan nyinyir orang sekitar. Seperti dianggap kurang pas jika si perempuan hanya di rumah. "Sarjana kok nganggur?"yang kemudian membuat galau mereka yang keputusannya tidak dengan sukarela. Ada keinginan untuk bekerja sebagai pembuktian. Ada pemikiran bahwa apa yang sudah didapatkan di masa lalu perlu memberikan hasil. Sepertinya itu pernah menghinggapi saya, walau tidak sepenuhnya sama. Saya berfikir harusnya perempuan berpendidikan bisa berdaya dan berkontribusi pada sesamanya. Poinnya pada kebermanfaatan diri.
Terlahir menjadi perempuan jaman sekarang itu anugerah. Perempuan jaman sekarang sudah mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki kaitannya dengan pendidikan dan pekerjaan. Perempun bisa bersekolah sampai level tertinggi. Sama seperti halnya laki-laki. Maka kiprah perempuan jaman sekarang pun luar biasa. Kiprahnya di tanah publik pun sudah tidak diragukan lagi. Kesempatan diperolehnya sama. Perempuan bisa menjadi dokter, dosen, Profesor, kepala daerah, menteri bahkan presiden.
Disaat perempuan bersekolah sebagian besarnya akan memiliki mimpi dan cita-cita menjadi profesional dan berkarier. Seperti harus ada keterkaitan dan hubungan yang pas dari keduanya. Begitu pula dulu pernah hinggap di pikiran saya. Berkarier dan bekerja seperti menjadi goal setelah pendidikan itu selesai.
Namun jalan kehidupan tidak lah selalu bisa berjalan seperti yang diinginkan. Manusia merancang dengan cita, sedang Allah merancang dengan cinta-Nya. Karena alasan satu dan yang lainnya, perempuan dengan terpaksa atau sukarela memilih untuk tinggal di rumah. Yang kerapkali menjadi pertimbangan karena tidak wajib bagi perempuan bekerja. Sebab mencari nafkah sudah menjadi kewajiban suami.
Lalu muncul pandangan nyinyir orang sekitar. Seperti dianggap kurang pas jika si perempuan hanya di rumah. "Sarjana kok nganggur?"yang kemudian membuat galau mereka yang keputusannya tidak dengan sukarela. Ada keinginan untuk bekerja sebagai pembuktian. Ada pemikiran bahwa apa yang sudah didapatkan di masa lalu perlu memberikan hasil. Sepertinya itu pernah menghinggapi saya, walau tidak sepenuhnya sama. Saya berfikir harusnya perempuan berpendidikan bisa berdaya dan berkontribusi pada sesamanya. Poinnya pada kebermanfaatan diri.
Komentar
Posting Komentar